NIAS UTARA — Expostnews. Id.
Puluhan tahun Indonesia merdeka, masyarakat Botolala Uludumula, Kecamatan Alasa, Kabupaten Nias Utara, masih dihadapkan pada persoalan infrastruktur jalan yang hingga kini belum mendapatkan penyelesaian sebagaimana yang diharapkan.
Kondisi Jalan Botolala Uludumula yang menjadi akses penting masyarakat masih memprihatinkan. Badan jalan yang didominasi tanah dan batuan, lubang, kubangan lumpur, tanjakan serta turunan terjal membuat mobilitas warga menjadi sulit, terutama ketika hujan turun.
Bagi masyarakat setempat, persoalan tersebut bukan sekadar kerusakan infrastruktur. Jalan menjadi urat nadi yang menentukan kelancaran aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan hingga distribusi hasil pertanian.
Kondisi itu kembali menjadi perhatian setelah kunjungan Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif Nasution ke wilayah tersebut pada 11 Agustus 2026.
Kedatangan orang nomor satu di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara itu dimanfaatkan masyarakat sebagai momentum untuk menyampaikan aspirasi yang selama bertahun-tahun mereka perjuangkan.
Akses Penting Tiga Kecamatan
Jalan Botolala Uludumula disebut bukan sekadar jalan penghubung antarkampung. Jalur tersebut menjadi akses masyarakat dari tiga kecamatan, yakni Kecamatan Alasa, Kecamatan Afulu, dan Kecamatan Lahewa Timur.
Sedikitnya enam desa menggunakan jalur tersebut dalam berbagai aktivitas sehari-hari.
Dari Kecamatan Alasa terdapat Desa Banuasibohou II, Desa Loloanaa, Desa Dahana Alasa dan Desa Banua Sibohou I. Sementara dari Kecamatan Afulu terdapat Desa Lauru Fadoro, sedangkan dari Kecamatan Lahewa Timur terdapat Desa Laowowaga.
Jalur tersebut digunakan masyarakat untuk bekerja, membawa hasil pertanian, memenuhi kebutuhan rumah tangga, mengakses fasilitas kesehatan hingga mengantarkan anak-anak ke sekolah.
Namun, kondisi jalan yang sulit dilalui membuat perjalanan warga membutuhkan waktu dan biaya lebih besar.
Ketika hujan mengguyur, sejumlah bagian jalan berubah menjadi licin dan berlumpur. Batuan lepas serta tanjakan dan turunan terjal semakin menyulitkan kendaraan roda dua maupun kendaraan pengangkut hasil pertanian.
Dalam kondisi tertentu, pengendara bahkan harus turun dari kendaraan dan mendorong sepeda motor agar dapat melewati tanjakan.
Petani Menanggung Beban Transportasi
Mayoritas masyarakat di kawasan tersebut menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian dan perkebunan.
Hasil bumi yang seharusnya menjadi sumber pendapatan keluarga harus dibawa melewati kondisi jalan yang sulit sebelum mencapai pusat perekonomian, termasuk menuju Pekan Lasara.
Buruknya akses transportasi berdampak terhadap biaya pengangkutan. Semakin sulit jalan dilalui, semakin besar pula biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk membawa hasil pertanian.
Situasi tersebut pada akhirnya ikut memengaruhi pendapatan masyarakat.
Bagi warga, pembangunan jalan yang layak bukan hanya persoalan kenyamanan berkendara, tetapi juga berkaitan langsung dengan peningkatan perekonomian masyarakat.
Pendidikan Ikut Terdampak
Persoalan jalan juga dirasakan para pelajar dan tenaga pendidik.
Jalur tersebut menjadi akses menuju sejumlah fasilitas pendidikan, antara lain SD Negeri 074063 Botolala Uludumula, SMP Negeri 8 Alasa, SMA Negeri 2 Alasa, serta SD Negeri Loloanaa Fadoro.
Setiap hari siswa dan guru harus melewati medan yang tidak mudah.
Ketika kondisi jalan licin dan berlumpur, perjalanan menuju sekolah menjadi lebih berisiko. Kendaraan roda dua dapat tergelincir, sementara tanjakan terjal membuat pengendara harus bekerja ekstra keras.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat para guru untuk menjalankan tugas. Mereka tetap berusaha hadir dan memberikan pendidikan kepada anak-anak di wilayah tersebut.
Bagi masyarakat, akses jalan yang baik merupakan bagian penting dari upaya memastikan anak-anak di pelosok Nias Utara mendapatkan hak pendidikan secara layak.
Surat Aspirasi Diserahkan kepada Gubernur
Harapan masyarakat kembali menguat ketika Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif Nasution berkunjung ke wilayah tersebut.
Meskipun tidak seluruh warga dapat berdialog langsung karena keterbatasan waktu dan padatnya agenda kunjungan, aspirasi terkait pembangunan Jalan Botolala Uludumula tetap disampaikan melalui perwakilan masyarakat.
Surat permohonan pembangunan jalan diserahkan kepada Gubernur Bobby Afif Nasution melalui perwakilan masyarakat, Nefaaro Harefa.
Penyerahan surat tersebut menjadi simbol harapan baru bagi masyarakat yang mengaku telah lama menunggu perhatian pemerintah terhadap kondisi infrastruktur di wilayah mereka.
“Kami sangat bersyukur karena inilah gubernur pertama sejak Indonesia merdeka yang hadir di tengah-tengah masyarakat untuk mendengarkan aspirasi kami secara langsung. Kami berharap Bapak Bobby Afif Nasution benar-benar melihat kondisi jalan kami dan memberikan perhatian kepada masyarakat yang selama ini terisolasi akibat buruknya infrastruktur,” ujar salah seorang tokoh masyarakat.
Warga Tagih Janji Pembangunan
Di balik harapan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, masyarakat juga menyampaikan kekecewaan terhadap kondisi jalan yang hingga kini belum mendapatkan penanganan permanen.
Warga mengaku sudah lelah mendengar berbagai janji pembangunan yang menurut mereka belum sepenuhnya terealisasi.
Masyarakat menyebut persoalan Jalan Botolala Uludumula sebelumnya juga pernah menjadi perhatian pemerintah daerah. Bahkan, menurut keterangan warga, tim dari Dinas PUPR Kabupaten Nias Utara telah beberapa kali melakukan pengukuran terhadap ruas jalan tersebut.
Warga juga mengungkapkan bahwa pada saat Amizaro Waruwu mencalonkan diri sebagai Bupati Nias Utara untuk periode pertama, pembangunan Jalan Botolala Uludumula disebut menjadi salah satu harapan yang disampaikan kepada masyarakat.
Menurut keterangan warga, ketika itu terdapat janji bahwa pembangunan jalan akan direalisasikan paling lambat satu tahun setelah pelantikan apabila terpilih.
Namun, warga menilai harapan tersebut hingga kini belum terwujud sebagaimana yang mereka nantikan.
Memasuki periode kedua kepemimpinan Amizaro Waruwu, masyarakat masih menghadapi persoalan jalan yang sama.
Keterangan mengenai janji politik, pengukuran jalan, serta target waktu pembangunan tersebut merupakan klaim masyarakat. Pemerintah Kabupaten Nias Utara dan Bupati Nias Utara perlu diberikan ruang untuk memberikan klarifikasi serta hak jawab mengenai status, kewenangan, perencanaan dan progres pembangunan ruas jalan tersebut.
Swadaya Warga Tak Pernah Berhenti
Menunggu pemerintah bukan berarti masyarakat hanya berdiam diri.
Warga bersama pemuda dan pelajar berulang kali melakukan gotong royong untuk memperbaiki kondisi jalan secara swadaya.
Dengan peralatan sederhana, seperti cangkul, kayu dan papan bekas, masyarakat berusaha memperbaiki bagian jalan yang rusak, membersihkan saluran air, meratakan badan jalan hingga membuat jembatan kayu sederhana agar kendaraan roda dua tetap dapat melintas.
Semangat gotong royong tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat telah berusaha mengatasi persoalan dengan kemampuan yang mereka miliki.
Namun, masyarakat menyadari bahwa perbaikan secara swadaya hanya bersifat sementara.
Pembangunan jalan secara permanen membutuhkan perencanaan teknis, kajian kondisi ruas jalan, kepastian status dan kewenangan jalan, dukungan anggaran serta pelaksanaan konstruksi yang memenuhi standar.
Karena itu, warga berharap pemerintah tidak hanya melakukan peninjauan atau pengukuran, tetapi juga memberikan kepastian mengenai langkah konkret yang dapat dilakukan.
Warga Tak Menuntut Jalan Mewah
Tuntutan masyarakat Botolala Uludumula pada dasarnya sederhana.
Mereka tidak meminta jalan yang mewah. Warga hanya menginginkan akses yang layak, aman dan dapat digunakan sepanjang tahun.
Jalan yang memungkinkan anak-anak berangkat ke sekolah tanpa harus menghadapi medan berbahaya.
Jalan yang memungkinkan guru menjalankan tugas tanpa mempertaruhkan keselamatan.
Jalan yang memungkinkan petani membawa hasil bumi dengan biaya transportasi yang lebih wajar.
Jalan yang memudahkan masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan dan memenuhi kebutuhan dasar.
Serta jalan yang dapat membuka akses ekonomi sehingga masyarakat tidak terus berada dalam kondisi keterisolasian akibat buruknya infrastruktur.
Menunggu Tindakan Nyata Pemerintah
Kini, aspirasi masyarakat telah disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui surat yang diserahkan kepada Gubernur Bobby Afif Nasution.
Masyarakat berharap aspirasi tersebut tidak berhenti sebagai dokumen yang diterima secara administratif.
Warga meminta pemerintah melakukan peninjauan langsung terhadap kondisi Jalan Botolala Uludumula, berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Nias Utara, memastikan status dan kewenangan ruas jalan, serta menyusun langkah penanganan yang realistis sesuai kemampuan anggaran dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagi masyarakat, persoalan tersebut sudah berlangsung terlalu lama.
Puluhan tahun menunggu membuat warga menginginkan kepastian, bukan sekadar janji.
Sebab, bagi masyarakat Botolala Uludumula, jalan bukan sekadar tanah, batu dan lumpur.
Jalan adalah urat nadi kehidupan.
Jalan adalah akses menuju sekolah.
Jalan adalah akses menuju pasar.
Jalan adalah akses menuju pelayanan kesehatan.
Jalan adalah jalur bagi hasil pertanian menuju pusat ekonomi.
Dan pada akhirnya, jalan merupakan salah satu pintu bagi masyarakat untuk membuka masa depan yang lebih baik.
Masyarakat telah bergotong royong dengan kemampuan seadanya. Aspirasi telah disampaikan. Surat permohonan telah diserahkan.
Kini, warga menunggu satu hal: tindakan nyata pemerintah.
Bukan lagi sekadar pengukuran, bukan hanya janji, melainkan langkah pembangunan yang terukur, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan demi membuka akses kehidupan masyarakat Botolala Uludumula dan desa-desa di sekitarnya.
Team.













