Arena Motor Cross di Tebingtinggi Memakan Korban Anak Anak.

Tebingtinggi,Expostnews.id

Arena motor cross yang disinyalir tidak ada izin di kelurahan Pinang mancung kecamatan Bajemis Kota Tebingtinggi memakan korban seorang anak meninggal dunia.

 

Ustad Muslim dari MTPI yang mendapat laporan dari Warga langsung mendatangi rumah Warga yang menjadi Korban tersebut dan mendapatkan keterangan dari keluarga korban bahwa anak yang meninggal dunia bernama Brian aditya

Umur 11 tahun Kelas 5 SD Negeri 165734 Kelurahan Berohol Kecamatan Bajenis.

 

Demikian pernyataan Ayahnya Ade Supriadi bersama omnya Tantra dan tantenya Deka Nurmalia bersama

Kepala lingkungan 3 Berohol Bapak Samiun,pernyataan ini juga disampaikan kepada Media Saat takziah tadi malam,pada hari senin 14 September 2026 di rumah Pak Tantra.

 

Menurut keterangan warga dan kawan kawan dari Brian, kejadian itu terjadi pada hari minggu 6 September 2026 yang lalu, saat Brian dan kawan kawan nya Bermain di Arena cross itu, tiba2 Brian terjatuh di Arena itu kemudian pingsan,dengan spontan lalu di antar pulang oleh kawan kawan nya, besoknya Brian muntah2 dan demam tinggi beberapa hari, sempat di infus di rumah kemudian di bawa ke rumah sakit Dr Kumpulan Pane, namun nyawanya tidak dapat tertolong dan akhirnya meninggal dunia pada hari Sabtu 12 September 2026, betapa sedih keluarganya, anak satu satunya dari keluarga Ade Supriadi dan Devi mulianti ini…

Yang menjadi kekesalan dari keluarga kenapa tempat Arena seperti itu tidak ada pengawasan sehingga terjadi korban jiwa anak anak.

 

Ustadz

Muslim Istiqomah, SSQ, C. TP sangat menyesalkan hal itu bisa terjadi, pasalnya hal itu sudah sebelumnya ada warga melapor tentang kegiatan yang disinyalir melanggar batas dan aturan yang berlaku,

maka kepada pemerintah kota dan aparat tentunya harus mengusut tempat itu, agar jangan sampai ada lagi korban korban jiwa berikutnya, jelasnya,warga yang berada di sekitar tempat itu pun mengatakan bahwa mereka yang membuka Arena cross itu sangat arogan, jangan lah mentang mentang punya uang dan kuasa sehingga berbuat semena mena saja dan tidak memperhitungkan dampak resikonya terhadap anak anak,” ungkap warga (Benny)..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *