Simalungun — Expostnews.id
Insiden penembakan yang melukai empat warga pada malam Natal di Perumahan Rorinata, Nagori Sondi Raya, Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun, Rabu (24/12/2025) sekitar pukul 22.00 WIB, terus menuai sorotan publik.
Di tengah proses penyelidikan Polres Simalungun, keluarga Sabarmen Saragi (53) atau SS, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di RS Bhayangkara Tebing Tinggi, menyampaikan versi kronologi berbeda dan mendesak pengusutan hukum dilakukan secara menyeluruh dan berimbang.

Peristiwa tersebut menyebabkan empat warga, yakni Deardo Putra Purba, Risjon Pardomoan Purba, Jhon Sendi Sahputra Sinaga, dan Jan Rafael Saragih, mengalami luka tembak.
Seorang warga lainnya dilaporkan mengalami trauma pada mata akibat gas air mata. Selain korban luka, rumah SS dirusak massa, tiga unit sepeda motor dibakar, dan satu unit mobil mengalami kerusakan parah.
Menurut E.S, anak kandung SS, ayahnya kini disorot sebagai terduga pelaku penembakan. Namun, E.S menegaskan bahwa SS juga merupakan korban kekerasan massa.
Ia menyebut ayahnya mengalami luka berat di bagian wajah akibat pemukulan saat rumahnya diserang sekelompok orang dalam jumlah besar.

E.S menjelaskan, kericuhan bermula sekitar pukul 20.00 WIB ketika SS secara tidak sengaja menabrak lampu hias Natal milik warga.
Peristiwa itu disebut telah diselesaikan secara damai dan bahkan dihadiri aparat Satpol PP. Namun, sekitar dua jam kemudian, massa berjumlah sekitar 100 orang mendatangi rumah SS dan melakukan perusakan.
Keluarga menduga ada latar belakang konflik sosial yang telah berlangsung sekitar dua minggu sebelumnya.
Konflik tersebut diduga terkait sikap SS yang menentang aktivitas penyalahgunaan dan peredaran narkoba di lingkungan tempat tinggalnya.
Dalam keterangannya kepada awak media indonesia-monitoring.com ,saat ditemui di ruang tahanan RS Bhayangkara TK III Tebing Tinggi, Sabarmen Saragi mengaku berada dalam kondisi tertekan dan ketakutan.
Ia menyatakan hanya melepaskan tembakan peringatan ke udara menggunakan airsoft gun karena merasa terancam.
Ia juga mengaku mendengar adanya tembakan dari arah ladang dan membantah melakukan penembakan langsung ke arah warga.

SS juga mengungkap dugaan keterlibatan oknum aparat.
Ia menyebut ada oknum anggota Polsek berinisial IPTU GS yang diduga memegang dan memukulnya serta melontarkan pernyataan bernada intimidatif.
Dalam situasi panik, SS sempat menghubungi seorang anggota Kodim berpangkat Serma bernama Wawan, namun kondisi rumah yang sudah dirusak dan istrinya yang pingsan membuat situasi semakin tidak terkendali.
Saat ini, SS menjalani perawatan medis di RS Bhayangkara TK III Tebing Tinggi dalam status tahanan.
Polisi telah menyita barang bukti berupa senapan angin, airsoft gun, dan tabung gas air mata.
Didampingi kuasa hukumnya, Martin Silalahi, S.H dari Peradi, SS menyatakan telah membuat laporan resmi atas dugaan penganiayaan, perusakan, dan pembakaran sepeda motor nya 3 unit dan mobil Daihatsu rusak yang dialaminya.
Sabarmen Saragi juga mengatakan bahwa orang yang datang saat itu lebih kurang 100 dan bukan warga setempat,katanya.
Keluarga SS mendesak Kapolres Simalungun, Kapolda Sumatera Utara, hingga Kapolri untuk turun tangan dan memastikan kasus ini diusut secara terang benderang.
Hingga berita ini diterbitkan, Polres Simalungun masih melakukan pendalaman guna mengungkap rangkaian peristiwa secara utuh dan menjamin penegakan hukum berjalan adil sesuai fakta di lapangan.
Red













