Kasus K Sorong dan Tantangan Implementasi PPRA di Era Viral

Sorong.Expostnews.id

Kasus K Sorong menjadi cermin penting bagi praktik jurnalisme ramah anak di Indonesia. Perhatian publik yang luas, dipicu oleh media sosial, mendorong percepatan arus informasi sekaligus memperbesar risiko pelanggaran etik. Dalam konteks ini, penerapan Pedoman Pemberitaan Ramah Anak (PPRA) menghadapi tantangan struktural dan kultural yang tidak ringan.

PPRA menegaskan kewajiban media melindungi identitas anak, baik sebagai korban, saksi, maupun pelaku. Perlindungan tersebut tidak hanya mencakup nama dan foto, tetapi juga segala informasi yang memungkinkan publik mengenali anak secara langsung maupun tidak langsung. Prinsip ini didasarkan pada kesadaran bahwa dampak pemberitaan terhadap anak bersifat jangka panjang dan dapat memengaruhi masa depan sosial maupun psikologisnya.

Namun, dalam praktik pemberitaan kasus K Sorong, prinsip tersebut berhadapan dengan realitas digital yang bergerak jauh lebih cepat dibandingkan proses verifikasi jurnalistik. Informasi mengenai identitas anak telah lebih dahulu beredar luas di berbagai platform daring. Situasi ini menempatkan media dalam posisi dilematis antara mengikuti arus informasi atau mempertahankan standar etik yang telah ditetapkan.

Tekanan Viralitas dan Wilayah Ambigu PPRA

Salah satu persoalan utama yang muncul adalah tafsir terhadap perlindungan identitas ketika informasi telah berada di ruang publik. Sebagian media memandang viralitas sebagai kondisi yang mengubah konteks pemberitaan. Namun secara normatif, PPRA tidak menyediakan pengecualian berdasarkan tingkat penyebaran informasi.

Di sinilah muncul wilayah ambigu dalam implementasi pedoman. PPRA memberi prinsip umum, bukan panduan teknis yang merinci setiap kemungkinan situasi. Keputusan operasional akhirnya berada di tangan redaksi, yang harus menilai sejauh mana detail peristiwa dapat disampaikan tanpa melanggar prinsip perlindungan anak.

Dalam kasus K Sorong, tekanan publik yang tinggi juga memengaruhi bentuk narasi pemberitaan. Anak tidak lagi diposisikan semata sebagai subjek yang dilindungi, tetapi berpotensi menjadi objek narasi emosional. Judul, ilustrasi, dan pilihan diksi yang menonjolkan kemarahan atau kesedihan berisiko memperkuat tekanan psikososial terhadap anak. Dalam kajian etika media, kondisi ini dikenal sebagai reviktimisasi, yakni ketika pemberitaan justru memperpanjang dampak traumatis suatu peristiwa.

Ambiguitas dalam PPRA pada dasarnya bukan celah hukum, melainkan ruang kebijaksanaan profesional. Pedoman memberikan kerangka nilai, sementara penerapannya menuntut pertimbangan redaksional yang matang. Tantangan muncul ketika tekanan viralitas mendorong keputusan cepat yang tidak selalu sejalan dengan prinsip perlindungan anak.

Konsistensi Implementasi dan Tantangan Redaksi Modern

Selain tekanan viralitas, faktor struktural dalam industri media turut memengaruhi penerapan PPRA. Persaingan atensi di ruang digital menuntut kecepatan produksi berita, sementara verifikasi dan pertimbangan etik membutuhkan waktu dan kehati-hatian. Ketegangan antara kecepatan dan akurasi ini menjadi karakter utama jurnalisme kontemporer.

Dalam situasi tersebut, PPRA berisiko diperlakukan sebagai dokumen normatif yang terpisah dari praktik sehari-hari. Padahal, fungsi utama pedoman ini justru terletak pada penerapannya dalam kondisi paling sulit, yaitu ketika tekanan publik dan tuntutan bisnis media meningkat.

Kasus K Sorong menunjukkan bahwa penerapan PPRA tidak menghalangi fungsi kontrol sosial pers. Media tetap dapat mengkritisi penanganan aparat, mengawal proses hukum, dan menyuarakan kepentingan korban tanpa membuka identitas anak atau mengeksploitasi aspek emosional secara berlebihan. Fakta dapat disampaikan secara utuh, sementara informasi yang berpotensi merugikan masa depan anak dapat disaring.

Dari sudut pandang analitis, persoalan utama bukan pada ketiadaan aturan, melainkan pada konsistensi penerapannya. PPRA menuntut kedewasaan institusional redaksi: kemampuan menahan diri, menjaga jarak dari arus viral, dan memprioritaskan dampak jangka panjang.

Kasus K Sorong menegaskan bahwa jurnalisme ramah anak merupakan indikator kesehatan etika pers. Ia diuji bukan pada situasi normal, tetapi pada momen ketika tekanan publik dan kepentingan industri media bertemu. Respons media terhadap situasi semacam ini akan menentukan apakah pedoman perlindungan anak berfungsi sebagai rujukan operasional, atau sekadar dokumen formal yang kehilangan daya ikat dalam praktik.

———-

Penulis yang lebih dikenal dengan nama panggilan Alam Massiri adalah Wartawan Muda dengan No. Sertifikat : 31254-UPDM/Wda/DP/X/2025/01/01/76, dan saat ini menjabat sebagai Sekretaris Wilayah Media Independen Online (MIO) Indonesia Provinsi DKI Jakarta

Penulis : La Maseng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *